definisi dan latar belakang sia

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

 

Perusahaan atau industri besar sering kali dianggap sebagai motor utama penggerak

pembangunan ekonomi. Pengembangan industri besar yang modern bukan merupakan

cara yang terbaik bagi upaya pembangunan ekonomi di negara-negara sedang

berkembang, karena industri besar yang modern hanya memerlukan sejumlah kecil

tenaga terampil sehingga gagal mengatasi problem pengangguran dari tenaga kerja yang

kurang terampil yang banyak dihadapi oleh negara-negara sedang berkembang.

Pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) dipandang dapat mengatasi kelemahan

ini. Seperti halnya di Indonesia. Walaupun volume usaha secara individual relatif kecil,

tetapi karena jumlah usaha yang sangat besar maka volume usaha secara total sangat

besar.

Kekuatan ekonomi suatu negara memiliki korelasi positif dengan kontribusi usaha

kecil dan menengah terhadap perekonomian suatu negara. Semakin besar kontribusi

usaha kecil dan menengah semakin kuat ekonomi negara tersebut (Sih Darmi Astuti dan

J.Widiatmoko,2003)

Di tengah badai krisis moneter yang melanda, usaha kecil dan menengah ternyata

tetap mempunyai kontribusi signifikan dalam menopang produk domestik bruto bangsa

Indonesia. Dalam perekonomian Indonesia, usaha kecil dan menengah juga merupakan

 

 

Pelaku ekonomi yang sangat strategis, mengingat produk usaha kecil dan menengah

menyumbang 35,5% dari total output yang dihasilkan oleh industri di Indonesia.

Seperti halnya di negara-negara lain, perkembangan usaha kecil dan menengah di

Indonesia tidak lepas dari berbagai macam masalah. Masalah umum yang dihadapi oleh

pengusaha kecil dan menengah seperti keterbatasan modal kerja, kesulitan bahan baku,

keterbatasan teknologi, sumber daya manusia dengan kualitas yang baik, informasi,dan

pemasaran (Sih Darmi Astuti dan J.Widiatmo,2003). Lebih lanjut dijelaskan bahwa

lemahnya usaha kecil di Indonesia disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor, tidak

hanya keterbatasan sumber daya manusia, teknologi, modal dan informasi, tetapi juga

karena kurangnya dukungan dari pemerintah dan kurangnya kemauan pengusaha-

pengusaha kecil dan menengah nasional untuk berorientasi global.

Jika dilihat dari segi pertumbuhan, usaha kecil mengalami masalah yang sama timbul

pada tahap-tahap yang serupa. Ini disebabkan perusahaan tidak memiliki informasi, baik

dari dalam usaha maupun dari luar usaha. Salah satu sistem informasi memberikan

informasi yang dibutuhkan adalah sistem informasi akuntansi. Ketidakmampuan

akuntansi merupakan faktor utama yang menimbulkan permasalahan dan mengakibatkan

kegagalan perusahaan kecil dan menengah dalam pengembangan usaha.

Upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mengungkapkan permasalahan perusahaan

kecil dan menengah yaitu dilakukan penelitian-penelitian akuntansi tentang penyediaan

dan penggunaan informasi akuntansi; antara lain dilakukan oleh Holmes (1998), dan

Holmes&Nicholls (1989). Hasil penelitian mereka mengungkapkan bahwa informasi

akuntansi utama yang layak disiapkan dan digunakan perusahaan kecil dan menengah

 

 

adalah informasi yang seharusnya menurut undang-undang atau peraturan (statutory).

Selain itu juga terungkap bahwa informasi akuntansi yang seharusnya dibutuhkan oleh

manajemen perusahaan kecil dan menengah dalam penyiapan dan penggunaan informasi

sangat terbatas sekali. Hal ini menunjukkan bahwa pengambilan keputusan yang

dilakukan perusahaan tidaklah berdasarkan informasi yang valid tetapi dilakukan dengan

taksiran yang berdasarkan pemahaman pemilik.

Penelitian Holmes & Nicholls (1989) mengungkapkan faktor-faktor yang

mempengaruhi penyiapan dan penggunaan informasi akuntansi pada perusahaan kecil di

Australia. Variabel yang signifikan berpengaruh antara lain, ukuran bisnis, masa

manajemen memimpin operasional usaha, sektor industri, dan pendidikan pemilik atau

manajer usaha. Penelitian Murniati (2002) mengungkapkan faktor-faktor yang

mempengaruhi penyiapan dan penggunaan informasi akuntansi pada perusahaan kecil

dan menengah di Indonesia, lebih lanjut menyatakan bahwa variable yang signifikan

berpengaruh antara lain skala usaha, masa memimpin perusahaan, sektor industri

pengolahan, pendidikan pemilik atau manajer, pelatihan akuntansi yang diikuti pemilik

atau manajer dan umur perusahaan Berdasarkan penelitian Holmes & Nicholls (1989),

peneliti akan mereplikasi dan mengadopsi variable-variabel penelitiannya antara lain

skala usaha, masa memimpin perusahaan, pendidikan pemilik atau manajer, pelatihan

akuntansi yang diikuti pemilik atau manajer dan umur perusahaan.

Adapun penggunaan beberapa variable tersebut dengan alasan :

1. Skala usaha berhubungan positif terhadap tingkat penyediaan informasi.

Tingkat informasi yang disediakan tergantung pada skala usaha yang diukur

dengan perputaran dan jumlah karyawan (Holmes & Nicholls. 1988,1989).

 

 

2. Masa memimpin perusahaan merupakan faktor penting yang mempengaruhi

informasi yang diperoleh dari dalam maupun luar perusahaan. Kebutuhan

informasi akuntansi yang digunakan manajemen membutuhkan informasi

yang lebih banyak agar alternatif serta pemilihan dapat diambil dengan

cermat.

3. Pemilik atau manajer perusahaan kecil dan menengah sangat dominan dalam

menjalankan perusahaan. Kemampuan dan keahlian pemilik atau manajer

sangat mempengaruhi penyiapan dan penggunaan informasi akuntansi.

Kemampuan dan keahlian pemilik atau manajer ditentukan dari pendidikan

formal yang pernah ditempuh (Murniati,2002)

4. Jain (1999) menyatakan bahwa pelatihan akan menghasilkan peningkatan

profesionalisme dan eksploitasi yang lebih jauh dalam manajemen

5. Holmes & Nicholls (1989), memperlihatkan bahwa penyediaan informasi

akuntansi dipengaruhi oleh usia usaha

1.2 PERUMUSAN MASALAH

Permasalahan yang timbul dalam perkembangan perusahaan kecil dan menengah

pada tahap pertumbuhan selalu sama, yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar

perusahaan maupun faktor-faktor dari dalam perusahaan. Faktor dari dalam perusahaan

antara lain perusahaan tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan sistem informasi

akuntansi dalam perusahaan. Kemampuan untuk menjalankan sistem informasi akuntansi

berhubungan dengan bagaimana perusahaan mempersiapkan dan menggunakan informasi

akuntansi tersebut. Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah yang dikemukakan

 

7

adalah ″Apakah skala usaha, masa memimpin perusahaan, pendidikan manajer atau

pemilik, pelatihan akuntansi yang diikuti, serta umur perusahaan mempengaruhi

penyiapan dan penggunaan informasi akuntansi pada perusahaan kecil dan menengah?

Masalah diatas secara khusus dapat dirumuskan dalam pertanyaan – pertanyaan

penelitian sebagai berikut :

1. Apakah skala usaha mempengaruhi penyiapan dan penggunaan informasi

akuntansi pada perusahaan kecil dan menengah ?

2. Apakah masa memimpin perusahaan mempengaruhi penyiapan dan

penggunaan informasi akuntansi pada perusahaan kecil dan menengah ?

3. Apakah pendidikan manejer/pemilik perusahaan mempengaruhi penyiapan

dan penggunaan informasi akuntansi pada perusahaan kecil dan menengah ?

4. Apakah ada pengaruh pelatihan akuntansi yang diikuti terhadap penyiapan dan

penggunaan informasi akuntansi pada perusahaan kecil dan menengah ?

5. Apakah umur perusahaan mempengaruhi penyiapan dan penggunaan

informasi akuntansi pada perusahaan kecil dan menengah ?

1.3. TUJUAN PENELITIAN

Sesuai dengan perumusan masalah, penelitian ini mempunyai tujuan sebagai

berikut :

1. Menganalisis pengaruh variable skala usaha terhadap penyiapan dan penggunaan

informasi akuntansi pada perusahan kecil dan menengah

2. Menganalisis pengaruh variable masa memimpin perusahaan terhadap penyiapan

dan penggunaan informasi akuntansi pada perusahan kecil dan menengah

 

 

3. Menganalisis pengaruh variable Pendidikan manejer/pemilik perusahaan, terhadap

penyiapan dan penggunaan informasi akuntansi pada perusahan kecil dan

menengah

4. Menganalisis pengaruh variable Pelatihan akuntansi yang diikuti, terhadap

penyiapan dan penggunaan informasi akuntansi pada perusahan kecil dan

menengah

5. Menganalisis pengaruh variable umur perusahaan terhadap penyiapan dan

penggunaan informasi akuntansi pada perusahan kecil dan menengah

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada :

1. Pengembangan teori, terutama yang berkaitan dengan informasi akuntansi

keuangan.

2. Perusahaan kecil dan menengah dalam menerapkan informasi akuntansinya

1.5 Sistematika Penulisan

Tesis ini ditulis dalam 5 bab. Bab I merupakan pendahuluan yang menjelaskan latar

belakang penelitian ini dilakukan dengan memaparkan permasalahan yang dibahas,

perumusan masalah yang akan diteliti, tujuan serta manfaat penelitian. Bab ini diakhiri

dengan sistematika penulisan tesis yang menjelaskan secara ringkas isi masing-masing

bab.

Pada bab II diuraikan telaah pustaka yang dijadikan dasar dalam penelitian ini.

Berdasarkan telaah pustaka dan penelitian-penelitian sebelumnya serta dikaitkan dengan

 

 

kerangka pemikiran teoritis maka diajukan hipotesis penelitian yang akan diuji pada hasil

dan pembahasan. Bab II ditutup dengan kerangka pemikiran teoritis.

Bab III berisikan metode penelitian yang menguraikan populasi dan prosedur

pengambilan sampel serta jenis dan sumber data. Pada bab ini juga diuraikan definisi

operasional variabel dan teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini.

Bab IV menguraikan hasil dan pembahasan terhadap data penelitian yang meliputi

gambaran statistic demografi responden, statistic deskriptif variabel yang digunakan, uji

reliabilitas dan validitas, uji asumsi klasik serta pengujian hipotesis.

Tesis ini ditutp dengan kesimpulan pada bab V yang menguraikan berbagai

keterbatasan dan implikasi hasil penelitian.

 

 

BAB II

TELAAH PUSTAKA DAN HIPOTESIS

 

2.1 TELAAH PUSTAKA

2.1.1 Perusahaan Kecil dan Menengah

Adanya perbedaan pandangan pengkajian usaha kecil atau perbedaan pemakaian

criteria menyebabkan belum ada keseragaman definisi usaha kecil. Kriteria yang dipakai

untuk membedakan kelompok usaha kecil ada bermacam-macam diantaranya jumlah

modal yang digunakan, jumlah tenaga kerja, jumlah produksi, omzet penjualan, besarnya

investasi dan metode administrasi. Kriteria yang umum digunakan adalah jumlah tenaga

kerja, besarnya modal atau investasi, kapasitas produksi dan jumlah penjualan per

periode.

Menurut Undang-undang No. 9 tahun 1995, pengertian usaha kecil, menengah dan

besar adalah sebagai berikut :

1. Usaha kecil adalah kegitan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi

kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan serta kepemilikan

sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.

2. Usaha menengah dan usaha besar adalah kegiatan ekonomi yang mempunyai

kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar daripada

kekayaan bersih dan hasil penjualan tahunan usaha kecil.

Undang-umdang tersebut lebih lanjut mengemukakan kriteria usaha kecil sebagai

berikut :

 

 

1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta

rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau

2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu

milyar rupiah)

3. Milik warga negara Indonesia

4. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau

berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha menengah atau

usaha besar

5. Berbentuk usaha orang perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum,

atau badan usaha berbadan hukum, termasuk koperasi

Bank Indonesia melalui proyek pengembangan ″small and medium industrial

enterprises″ mengkriteriakan usaha kecil dengan menekankan pada jumlah aktiva yang

dimiliki dan jumlah tenaga kerja, yaitu :

1. Jumlah aktiva diluar tanah dan persediaan barang dan bahan paling banyak

sebesar Rp. 1 Milyar, dan

2. Jumlah tenaga kerja antara 20 sampai dengan 150 orang

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 58 (IAI,1999), memberikan

pengertian usaha kecil disamping dari segi jumlah aktiva dan tenega kerja, juga

memperhatikan sifat pengelolaan usaha kecil tersebut. Pernyataan tersebut menjelaskan

bahwa usaha kecil sebagai bisnis yang memiliki karyawan sedikit atau tingkat perputaran

aktiva yang rendah atau total aktiva yang rendah. Kemudian yang dimaksud sifat

pengelolaan usaha kecil adalah :

1. Pemisahan tugas yang terbatas

 

 

2. Dominasi oleh manajemen senior atau pemilik terhadap aspek ekonomi bisnis.

Definisi perusahaan skala kecil dan menengah untuk tujuan penelitian ini mengacu

pada pengelompokkan perusahaan menurut skala usaha yang dikeluarkan oleh Badan

Pusat Statistik (2002). Hal ini dengan alasan bahwa pemisahan yang dilakukan secara

tegas antara usaha industri pengolahan skala kecil, menengah dan besar. Menurut Badan

Pusat Statistik (BPS) pengelompokkan industri pengolahan skala kecil, menengah dan

besar ditekankan pada jumlah karyawan. Usaha industri pengolahan yang memiliki

tenaga kerja kurang dari 5 orang dikelompokkan sebagai industri rumah tangga. Usaha

industri pengolahan yang memiliki tenaga kerja 5 sampai dengan 10 orang termasuk

perusahaan kecil. Industri yang memiliki tenaga kerja antara 20 sampai dengan 99 orang

termasuk perusahaan sedang, sedangkan perusahaan besar adalah perusahaan dengan

tenaga kerja lebih dari 99 orang.

Penelitian ini menggabungkan klasifikasi industri rumah tangga dengan usaha kecil,

menjadi klasifikasi perusahaan kecil yang memiliki tenaga kerja antara 1 sampai dengan

99 orang. Perusahaan yang diklasifikasikan sebagai perusahaan besar akan dikeluarkan

dari penelitian ini.

2.1.2 Pengertian Informasi

Informasi merupakan data yang diproses atau data yang mempunyai arti (McLeod,

200,16). Informasi dalam bisnis mempunyai pengertian untuk pengambilan keputusan.

Informasi usaha membantu memilih jalan keluar sekarang atau akan datang untuk

mencapai tujuan perusahaan. Sumber dari informasi adalah data yang menggambarkan

kejadian yang nyata..

 

 

2.1.2 Informasi Akuntansi

Belkaoui (2000) mendifinisikan informasi akuntansi sebagai informasi kuantitatif

tentang entitas ekonomi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan ekonomi dalam

menentukan pilihan-pilihan diantara alternatif-alternatif tindakan.

Haswell dan Holmes (1989) menyatakan bahwa kekurangan informasi akuntansi

dalam manajemen perusahaan dapat membahayakan perusahaan kecil. Kondisi keuangan

yang memburuk dan kekurangan catatan akuntansi akan membatasi akses untuk

memperoleh informasi yang diperlukan, sehingga akan menyebabkan kegagalan

perusahaan.

Holmes dan Nicholls (1988,1989) mengklasifikasi informasi akuntansi dalam tiga

jenis yang berbeda menurut manfaatnya bagi para pemakai, yaitu :

1. Statutory accounting information, merupakan informasi yang harus disiapkan

sesuai dengan peraturan yang ada

2. Budgetary information, yaitu informasi akuntansi yang disajikan dalam bentuk

anggaran yang berguna bagi pihak internal dalam perencanaan, penilaian dan

pengambilan keputusan

3. Additional accounting information, yaitu informasi akuntansi lain yang disiapkan

perusahaan guna meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan.

2.1.5 Sistem Informasi Perusahaan

Sistem informasi dalam suatu perusahaan dapat berguna bagi pihak dalam maupun

luar perusahaan, yang dihasilkan dari sistem informasi yang terdiri dari sistem iinformasi

akuntansi, sistem informasi manajemen, sistem pendukung keputusan, sistem informasi

eksekutif, dan sistem pakar. Sistem informasi manajemen dalam suatu perusahaan

 

 

berdasarkan fungsinya yaitu terdiri dari Sistem informasi pemasaran , Sistem informasi

manufaktur, Sistem informasi sumber daya manusia, Sistem informasi keuangan. Sistem

informasi akuntansi terdiri dari sistem akuntansi keuangan dan sistem akuntansi

manajemen.

2.1.6 Informasi Akuntansi Keuangan

Informasi akuntansi keuangan dihasilkan oleh suatu sistem informasi yaitu sistem

akuntansi keuangan. Informasi akuntansi tersebut adalah laporan keuangan, yang terdiri

dari neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas dan catatan

atas laporan keuangan. Informasi akuntansi keuangan lebih ditujukan kepada pihak luar

perusahaan, yang terutama berkepentingan adalah investor dan kreditor. Informasi

akuntansi keuangan harus disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK),

karena akuntansi mempunyai banyak metode dan konsep sehingga pihak yang

berkepentingan dan pihak perusahaan mempunyai persepsi yang sama dalam

menginterprestasikan informasi tersebut.

2.1.7 Informasi Akuntansi Statutori

Penyelenggaraan pembukuan merupakan suatu kewajiban yang diatur dalam undang-

undang perpajakan, yang dapat menyajikan keterangan-keterangan yang cukup untuk

menghitung penghasilan kena pajak atau harga perolehan dan penyerahan barang dan

jasa. Pembukuan ini sekurang-kurangnya terdiri dari catatan yang dikerjakan secara

teratur tentang keadaan kas dan bank, daftar hutang piutang dan daftar persediaan barang,

serta pada akhir tahun membuat neraca dan perhitungan laba-rugi

.

2.1.8 Informasi Anggaran

Anthony, Hawkins dan Merchant (1999) menyatakan bahwa manajemen adalah

proses dalam organisasi yang memberikan informasi yang digunakan oleh manajer

perusahaan dalam perencanaan, implementasi, dan kontrol aktivitas organisasi. Informasi

anggaran akan membantu manajemen untuk menjamin operasional perusahaan dijalankan

sesuai dengan perencanaan yang sudah ditetapkan. Serta digunakan untuk mengukur

prestasi yang telah dicapai.

2.1.9 Informasi Tambahan

Devine & Seatin (1994,1995) menyatakan bahwa laporan keuangan tahunan adalah

sumber untuk berbagai rasio keuangan yang berguna untuk membuat keputusan yang

berhubungan dengan penjelasan dan prediksi prestasi perusahaan dengan membuat

analisis perbandingan dengan tahun sebelumnya.

Analisis breakevent memberikan pengetahuan yang penting untuk memperoleh

effective pricing dan costing decision. Kegagalan dalam pemanfaatan breakevent points

merupakan salah satu kesalahan besar yang terjadi di perusahaan kecil.

2.1.11 Pengaruh Skala Usaha terhadap Penyiapan dan Penggunaan Informasi

Akuntansi

Holmes and Nicholls (1988,1989) mengemukakan bahwa tingkat informasi akuntansi

yang disediakan tergantung pada skala usaha yang diukur dengan perputaran dan jumlah

karyawan. Skala usaha berhubungan positif terhadap tingkat penyediaan informasi

akuntansi. Hasil penelitian mereka menyatakan bahwa apabila skala usaha meningkat,

 

maka proporsi perusahaan dalam penyediaan informasi akuntansi statutory, anggaran,

informasi tambahan juga meningkat.

Suatu perusahaan akan beroperasi secara terus menerus sesuai dengan tujuan yang

telah dirumuskan. Perjalanan perusahaan diharapkan oleh manajemen terus berkembang

yang akan berakibat pada skala perusahaan, yang dapat dilihat dari perubahan asset yang

dimiliki, antara lain dari jumlah tenaga kerja yang terus meningkat jumlahnya. Hal ini

disebabkan oleh kemajuan perusahaan yang membutuhkan jumlah tenaga kerja yang

lebih besar, seiring dengan penambahan aktivitas perusahaan. Penambahan tenaga kerja

pada perusahaan kecil dan menengah tidak dapat dielakkan jika terjadi perubahan

aktivitas dalam perusahaan yang berbeda dengan perusahaan yang mempunyai modal

besar yang telah menggunakan teknologi dalam semua bidang aktivitasnya.

H1 = Skala usaha berpengaruh terhadap penyediaan dan penggunaan informasi

akuntansi perusahaan kecil dan menengah

2.1.12 Pengaruh Masa Memimpin Perusahaan terhadap Penyiapan dan

Penggunaan Informasi Akuntansi

Dalam melakukan pengelolaan perusahaan, pemimpin perusahaan akan banyak

memperoleh pengalaman dari berbagai pihak baik dari dalam perusahaan maupun dari

luar perusahaan, dan akan bertambah seiring dengan masa jabatannya. Pengelolaan

perusahaan oleh manajer dipengaruhi oleh gaya manajemen yang berbeda-beda, juga

dipengaruhi oleh tingkat persaingan usaha dalam industri itu maupun keadaan ekonomi

dimana perusahaan berada, serta kompleksitas usaha perusahaan.

 

 

Manajemen mempunyai keinginan untuk mengambil keputusan secara tepat dan cepat

untuk pemecahan masalah yang dihadapinya. Kebutuhan informasi akuntansi yang

digunakan manajemen akan terasa apabila manajer membutuhkan informasi lebih

banyak. Informasi yang diperoleh dari dalam maupun luar perusahaan dipengaruhi oleh

masa memimpin perusahaan.

H2 = Masa memimpin perusahaan berpengaruh terhadap penyediaan dan penggunaan

informasi akuntansi akuntansi perusahaan kecil dan menengah

2.1.13 Pengaruh Pendidikan Manajer atau Pemilik terhadap Penyiapan dan

Penggunaan Informasi Akuntansi

Kemampuan dan keahlian manajer atau pemilik perusahaan sangat mempengaruhi

penyiapan dan penggunaan informasi akuntansi. Kemampuan dan keahlian manajer atau

pemilik perusahaan kecil dan menengah ditentukan dari pendidikan formal yang pernah

ditempuh. Pemilik atau manajer perusahaan kecil dan menengah sangat dominan dalam

menjalankan perusahaan. Tingkatan pendidikan formal pemilik atau manajer perusahaan

kecil dan menengah sangat mempengaruhi penyiapan dan penggunaan informasi

akuntansi keuangan dan manajemen. Tingkatan pendidikan formal yang rendah (tingkat

pendidikan sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah umum) pemilik atau manajer

akan rendah penyiapan dan penggunaan informasi akuntansi dibandingkan tingkatan

pendidikan formal yang tinggi (perguruan tinggi) pemilik atau manajer. Ini disebabkan

materi pengajaran akuntansi lebih tinggi diberikan diperguruan tinggi dibandingkan

dengan pendidikan yang lebih rendah.

 

H3 = Pendidikan manajer/pemilik berpengaruh terhadap penyediaan dan penggunaan

informasi akuntansi perusahaan kecil dan menengah

2.1.14 Pengaruh Pelatihan Akuntansi terhadap Penyiapan dan Penggunaan

Informasi Akuntansi

Jain (1999) menyatakan bahwa pelatihan akan menghasilkan peningkatan

professional yang lebih jauh dalam manajemen. Penelitian Holmes dan Nicholls

(1988,1989) menunjukkan bahwa pelatihan berhubungan positif terhadap penyediaan

informasi akuntansi untuk membuat keputusan dalam perusahaan kecil. Manajemen yang

dipakai dalam kursus pelatihan cenderung menghasilkan lebih banyak informasi

akuntansi statutory, anggaran dan tambahan dibandingkan dengan mereka yang kurang

pelatihan.

H4 = Pelatihan akuntansi yang diikuti manajer/pemilik berpengaruh terhadap

penyediaan dan penggunaan informasi akuntansi perusahaan kecil menengah

2.1.15 Pengaruh Umur Perusahaan terhadap Penyiapan dan Penggunaan

Informasi Akuntansi

Holmes dan Nicholls (1989) memperlihatkan bahwa penyediaan informasi akuntansi

dipengaruhi oleh usia usaha. Juga menunjukkan semakin muda usia perusahaan terdapat

kecenderungan untuk menyatakan informasi akuntansi yang ekstensif untuk membuat

keputusan dibandingkan dengan perusahaan yang lebih tua umurnya.

H5 =

Umur perusahaan berpengaruh terhadap penyediaan dan penggunaan

informasi akuntansi perusahaan kecil dan menengah

 

2.2 PENELITIAN SEBELUMNYA

Penelitian analisis penggunaan informasi akuntansi perusahaan kecil yang dilakukan

di Australia oleh Holmes dan Nicholls (1988) menunjukkan bahwa penyiapan informasi

akuntansi diperuntukkan untuk pelaporan perpajakan dan laporan pendukungnya dan

statutory. Informasi non-statutory seperti anggaran dan tambahan relatife kecil

jumlahnya. Hasil penelitian mereka menyatakan bahwa usaha kecil dalam penyiapan dan

penggunaan informasi tambahan dipengaruhi secara signifikan oleh variable ukuran

usaha, masa memimpin manajemen, sector industri dan pendidikan pemilik atau manajer.

Holmes dan Nicholls (1989) melakukan survey tingkat penyiapan dan penggunaan

informasi oleh pemilik atau manajer perusahaan kecil untuk pengambilan keputusan

usahanya. Beberapa variable yang mempengaruhi penyiapan informasi akuntansi yang

diuji yaitu : skala usaha, masa memimpin, sector industri dan pendidikan pemilik atau

manajer perusahaan. Kualifikasi informasi akuntansi dalam penelitian mereka ini dibagi

tiga kelompok, yaitu informasi akuntansi ststutori, informasi akuntansi anggaran dan

informasi akuntansi tambahan. Penyiapan informasi itu dilakukan oleh pihak internal dan

pihak eksternal (akuntan). Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan

yang signifikan antara penyiapan informasi pihak internal dan pihak eksternal

perusahaan. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa terdapat signifikansi proporsi

yang besar pemilik/manajer perusahaan kecil meminta informasi statutory dan anggaran

dari akuntan eksternal, dibandingkan penyiapan informasi dari dalam perusahaan,

sebaliknya untuk informasi tambahan

Penelitian Murniati terdapat 238 pengusaha kecil dan menengah menemukan bahwa

karakteristik pemilik/manajer (masa memimpin, pendidikan formal manajer/pemilik dan

 

 

pelatihan akuntansi yang diikuti manajer/pemilik dan karakteristik perusahaan kecil dan

menengah (umur perusahaan, sektor industri dan skala usaha) berpengaruh secara

signifikan terhadap penyiapan informasi akuntansi, penggunaan informasi akuntansi,

serta penyiapan dan penggunaan informasi akuntansi. Semua variable independen kecuali

sektor industri berpengaruh secara signifikan terhadap penyiapan dan penggunaan

informasi akuntansi perusahaan kecil dan menengah.

 

Sumber : eprints.undip.ac.id/17415/1/Era_Astuti.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: